Masjid Tiban Sunan Siti Geseng: Warisan Dakwah dan Filosofi Soko Papat di Pacitan
PRABANGKARANEWS.COM, PACITAN – Di kawasan selatan Kabupaten Pacitan, tepatnya di Desa Tanjung Puro, Kecamatan Ngadirojo (Lorok), Jawa Timur, terdapat sebuah situs spiritual yang dikenal masyarakat sebagai Citus Soko Papat Masjid Tiban Sunan Siti Geseng.
Situs ini diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-14 hingga ke-15 Masehi, pada masa ketika wilayah Nglorok dan sekitarnya masih berupa hamparan rawa-rawa luas, belum dihuni manusia, serta dikelilingi hutan belantara yang kerap terendam air laut dari pesisir selatan.
Pada masa itu, kawasan tersebut dikenal angker dan wingit oleh masyarakat sekitar. Di tengah kondisi alam yang keras dan belum tersentuh peradaban, datanglah seorang ulama besar dari wilayah Kulon Kedu Selatan bersama seorang santri. Kedatangan mereka merupakan bagian dari perjalanan spiritual yang diyakini sebagai perintah dari Waskito Langit. Ulama tersebut dikenal dengan nama Sunan Siti Geseng.
Perjalanan mencari tempat yang dianggap sakral di kawasan timur selatan Pulau Jawa bukanlah perkara mudah. Medan yang dilalui penuh tantangan, mulai dari hutan lebat, pegunungan tandus, hingga keyakinan masyarakat tentang keberadaan kerajaan makhluk gaib yang dipercaya menghuni wilayah tersebut.
Dalam kisah tutur masyarakat, Sunan Siti Geseng digambarkan memiliki tubuh tinggi besar, mengenakan jubah kebesaran berwarna ungu tua, serta rambut yang terikat dengan serban putih.
Setelah tiba di lokasi yang diyakini sebagai tempat yang dituju, beliau melakukan laku spiritual dengan berdoa di atas kawasan rawa yang dikenal sangat angker. Doa tersebut dipanjatkan untuk memohon petunjuk serta ridho Allah SWT. Dari rangkaian tirakat dan doa itulah kemudian berdiri sebuah langgar sederhana sebagai tempat ibadah. Bangunan tersebut memanfaatkan kayu jati yang tersedia di sekitar lokasi sebagai soko guru atau tiang utama.
Langgar itu disangga oleh empat tiang jati berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 14 sentimeter. Atapnya berbentuk limasan yang ditutup menggunakan jerami alang-alang, bahan alami yang mudah ditemukan di kawasan tersebut.
Seiring perjalanan waktu, langgar sederhana itu berkembang menjadi sebuah masjid. Meski bangunannya kemudian mengalami perubahan dengan sentuhan arsitektur bergaya Arab yang ditandai dengan kubah bulat, empat soko guru dari kayu jati tetap dipertahankan pada posisi aslinya.
Keberadaan Soko Papat tidak sekadar berfungsi sebagai penyangga bangunan, tetapi juga mengandung filosofi yang mendalam. Empat tiang tersebut melambangkan arah mata angin, sebagai simbol bahwa manusia dari mana pun datangnya ketika menghadap kepada Gusti Allah harus tetap berpegang pada jati diri yang sejati—kejernihan hati yang tidak mengkhianati nurani.
Kayu jati dipandang sebagai simbol keteguhan dan kejujuran, sementara alang-alang melambangkan berbagai rintangan duniawi yang harus dilalui manusia dalam perjalanan menuju ridho dan kridho Allah SWT.

