Hari Krida Pertanian dan Pranata Mangsa: Kearifan Lokal Membaca Musim dari Tanah Jawa
PRABANGKARANEWS.COM, OPKCB – Setiap tanggal 21 Juni, Indonesia memperingati Hari Krida Pertanian sebagai bentuk penghormatan kepada para petani, peternak, penyuluh, serta seluruh pelaku sektor pertanian yang selama ini menjadi penopang ketahanan pangan bangsa. Namun di balik peringatan tersebut tersimpan sebuah warisan pengetahuan tradisional yang telah hidup selama berabad-abad di tengah masyarakat Jawa, yakni Pranata Mangsa. Sistem penanggalan tradisional ini bukan sekadar penunjuk waktu, melainkan sebuah panduan membaca tanda-tanda alam yang diwariskan lintas generasi.
Pranata Mangsa berasal dari bahasa Jawa yang berarti “ketentuan musim”. Petani khususnya yang usianya sekitar 65 tahun masih menggunakan pranata mangsa untuk menanam tanaman. Sistem kalender ini disusun berdasarkan peredaran matahari dan pengamatan terhadap gejala-gejala alam yang berlangsung sepanjang tahun.
Dalam satu siklus terdapat 12 mangsa atau musim dengan jumlah hari yang berbeda-beda. Bagi masyarakat agraris Jawa, pranata mangsa menjadi pedoman penting untuk menentukan waktu bercocok tanam, memanen hasil pertanian, mencari ikan, hingga mengantisipasi datangnya berbagai bencana alam seperti kekeringan, banjir, wabah penyakit, maupun serangan hama tanaman.
Sejarah Pranata Mangsa diperkirakan telah dikenal sejak masa Kerajaan Medang pada abad ke-9 Masehi. Pengetahuan tersebut kemudian terus berkembang dan diwariskan pada masa Kerajaan Kahuripan, Jenggala, Singhasari, Majapahit, hingga Kesultanan Mataram.
Sebelum hadirnya teknologi prakiraan cuaca modern, masyarakat Jawa mengandalkan pengamatan terhadap peredaran matahari, rasi bintang Waluku (Orion), arah angin, perilaku hewan, hingga perubahan vegetasi sebagai penanda pergantian musim. Kearifan lokal ini menjadi bukti bahwa nenek moyang Nusantara memiliki kemampuan membaca alam secara cermat dan sistematis.
Tanggal 21 Juni memiliki makna khusus dalam sistem Pranata Mangsa karena menandai dimulainya Mangsa Kasa atau yang sering disebut Mangsa Terang. Masa ini berlangsung selama 82 hari dan ditandai oleh cuaca yang relatif cerah serta berkurangnya curah hujan.
Dalam tradisi pertanian Jawa, Mangsa Terang menjadi periode penting untuk mempersiapkan lahan, mengeringkan hasil panen, serta melakukan berbagai aktivitas yang membutuhkan kondisi cuaca stabil. Oleh karena itu, Hari Krida Pertanian yang diperingati setiap 21 Juni memiliki keterkaitan erat dengan pengetahuan tradisional masyarakat agraris dalam memahami siklus alam.
Di tengah perkembangan teknologi modern, relevansi Pranata Mangsa memang mengalami tantangan. Revolusi hijau sejak dekade 1970-an, penggunaan varietas unggul berumur pendek, sistem irigasi modern, serta kemajuan ilmu meteorologi membuat sebagian petani tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kalender tradisional tersebut.
Perubahan iklim global yang menyebabkan pola musim semakin sulit diprediksi juga turut memengaruhi akurasi sejumlah indikator alam yang selama ini menjadi dasar pembacaan Pranata Mangsa.
Meski demikian, Pranata Mangsa tetap memiliki nilai penting sebagai warisan budaya dan sumber pengetahuan ekologis masyarakat Nusantara. Di dalamnya tersimpan pengalaman panjang manusia dalam berinteraksi dengan alam secara harmonis. Sistem ini tidak hanya berbicara tentang musim dan pertanian, tetapi juga mencerminkan filosofi hidup yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasanya.
Dalam perspektif Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Pranata Mangsa termasuk dalam kategori Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) bidang Pengetahuan Tradisional. Keberadaannya perlu didokumentasikan, diteliti, dan diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya bangsa.
Hari Krida Pertanian menjadi momentum yang tepat untuk mengingat kembali bahwa keberhasilan pertanian Indonesia tidak hanya ditopang oleh teknologi modern, tetapi juga oleh kearifan lokal yang telah teruji selama ratusan tahun.
Ketika dunia menghadapi tantangan perubahan iklim dan krisis lingkungan, Pranata Mangsa mengajarkan bahwa memahami alam adalah langkah awal untuk hidup berdampingan dengannya. Dari sawah-sawah di tanah Jawa, warisan pengetahuan itu terus berbisik kepada generasi masa kini: membaca musim berarti membaca kehidupan.
Penulis: Hendriyanto
